:strip_icc()/kly-media-production/medias/3398297/original/078474200_1615373040-20210310-MRT-Akan-Hadir-di-LimaKota-TALLO-4.jpg)
Iwan mengatakan, sebagai moda transportasi berbasis listrik, LRT Jakarta diproyeksikan dapat menurunkan emisi karbon per penumpang per kilometer (km) dibandingkan kendaraan pribadi.
Menurut dia, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 2.927.250 ton CO₂e, dengan target jumlah penumpang mencapai 18 juta orang pada 2028.
“Transportasi publik adalah kunci kota global yang berkelanjutan. Penugasan LRT ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang membangun kebiasaan baru masyarakat yang lebih ramah lingkungan,” ucap Iwan.
Kemudian, lanjut dia, ada Taman Ismail Marzuki (TIM) yang kini menjadi salah satu pusat seni, budaya, dan edukasi di Jakarta. Selama periode libur akhir tahun 22 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, kawasan TIM mencatat 67.198 pengunjung.
“Jakpro juga menyelesaikan revitalisasi Teater Bintang Planetarium Jakarta yang sudah lama mati di 2025. Kini, Planetarium telah diaktivasi dan menjadi salah satu magnet utama, pusat edukasi sains dan antariksa berstandar di Jakarta,” terang Iwan.
Pada 2025, ekosistem di TIM turut diperkuat dengan hadirnya Paviliun Raden Saleh (ARTOTEL Curated), hasil kolaborasi Jakpro dan Artotel Group. Fasilitas ini bertujuan untuk mendukung aktivitas seniman, ekonomi kreatif, serta penyelenggaraan kegiatan seni budaya.
“Dengan GCG sebagai pijakan dan penugasan strategis yang terukur, Jakpro berkomitmen menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tandas Iwan.