:strip_icc()/kly-media-production/medias/6050896/original/011497700_1778940157-IMG_0153.jpeg)
Alifia (29), warga Jakarta Timur, mengaku rutin singgah ke Blok M. Sore itu, ia bertemu teman-temannya di sekitar Blok M setelah turun dari MRT. Menurut dia, ada sesuatu yang membuat kawasan ini terasa lebih “mengundang” dibanding tempat nongkrong lainnya di Jakarta Selatan.
“Blok M menurutku punya daya tarik yang lebih luas. Secara lokasi strategis, ada mal, coffee shop, kuliner yang beragam, ada Taman Literasi juga yang kadang jadi tempat konser gratis,” kata Alifia kepada Liputan6.com.
Bagi Alifia, Blok M menawarkan pengalaman yang tidak melulu soal gaya hidup mahal. Orang bisa datang dengan berbagai tujuan dan anggaran. Ada yang duduk di taman tanpa biaya, ada yang berburu kopi estetik, ada pula yang sekadar berjalan kaki menikmati atmosfer kawasan.
“Akses transportasi juga gampang, dan secara budget masih masuk buat anak muda ataupun keluarga,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Pernita (30), warga Jakarta Pusat. Awalnya, ia datang karena penasaran melihat Blok M yang terus muncul di media sosial dan percakapan teman-temannya. Namun, rasa penasaran itu berubah menjadi kebiasaan.
Kini, setidaknya dua minggu sekali ia menyempatkan diri datang ke kawasan tersebut.
Menurut Pernita, Blok M menawarkan suasana yang lebih cair dibanding kawasan elite lain di Jakarta. Orang-orang datang tanpa beban harus tampil terlalu formal atau mengeluarkan banyak uang.
“Kalau di Blok M ramai, banyak pilihan dan harganya lebih terjangkau dibanding SCBD dan lainnya,” kata dia.
Di satu sisi jalan, pengunjung bisa menemukan jajanan kaki lima yang dipenuhi antrean. Di sisi lain, berdiri coffee shop modern dengan desain minimalis yang dipenuhi anak muda. Toko musik lawas, photobooth, hingga lorong-lorong kecil bernuansa Jepang ikut memperkaya wajah Blok M hari ini.
“Karena banyak pilihan makanan, pengen coba makanan viral, ada coffee shop sampai tempat photobooth, jadi banyak pilihan untuk main di sana,” ujar Pernita.